Pengaruh Terhadap Kesuburan Tanah

Pengaruh terhadap Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk memasok hara pada tanaman dalam jumlah yang seimbang. Beberapa faktor yang metnpengaruhi kesuburan tanah adalah: cadangan hara, ketersediaan, besarnya pasokan, tidak adanya bahan racun maupun bahan yang menghambat penyerapan hara oleh tanaman.
Hampir semua bahan organik (humus) mengandung N, 20% — 80% P, dan kemungkinan sulfur. Di lahan kering, bahan organik merupakan sumber utama N, demikian juga P dan S. Di tanah sawah, bahkan yang secara rutin dipupuk dengan pupuk kimia, 50% — 80%N tanah berasal dari bahan organik (Broadbent, 1978). Kandungan bahan organik tanah merupakan indek untuk tnenentukan kapasitas penyediaan N di tanah sawah (Ponnamperuma, 1980). Keuntungan lain penggunaan bahan organik terhadap kesuburan tanah adalah meningkatkan KTK, dan meningkatkan ketersediaan P clan Fe untuk tanaman. Penggunaan bahan organik yang berlebihan menyebabkan ketersediaan Zn menurun.

Sampai dengan 80% N yang diserap °tell tanaman padi bahkan yang di-pupuk intensif berasal dari hasil mineralisasi bahan organik. Apabila 5% N mengalami mineralisasi dalam satu musim tanam, maka kandungan N 0,2% cukup untuk menghasilkan 5 ton padi/ha (Ponnamperuma, 1980). Tetapi 70% tanah sawah di negara-negara Asean mengandung N < 0,2% atau dikategorikan kahat N. Apabila kandungan N tanah dinaikkan 0,05% dan dipertahankan pada arcs ini, maka hanya diperlukan penambahan 50 kg N atau setara 100 kg Urea setiap hektarnya. Membenamkan jerami ke lapisan olah merupakan cara yang paling mudah dilakukan untuk meningkatkan kandungan N.

Fosfat merupakan sumber daya yang tak terbarukan dan di lapisan olah sampai dengan < 0,1% dijumpai dalam bentuk P-organik. Erosi tanah dan panen secara perlahan akan menurunkan kandungan hara P di dalam tanah, dan hanya dapat digantikan dengan pemupukan P yang sebagian bestir berasal dari batuan fosfat. Pendauran-ulang bahan organik merupakan salah saw cara untuk memperbaiki status P tanah. Membenamkan atau membakar jerami akan mengembalikan P sebanyak 10 kg Pihaimusim.
Jerami padi mengandung K berkisar antara 1,1% — 3,7%. Membenamkan jerami ke dalam tanah akan meningkatkan kandungan K tanah, dan K yang berasal dari jerami bersifat larut air dan slap tersedia bagi tanaman padi.

Kandungan S tanah-tanah di wilayah tropika kurang lebih 100 mg/kg (San-chez, 1976), dan 97% dalam bentuk S-organik (Stevenson, 1982). Tidak seperti fosfat, sulfur relatif mudah terlindi. Mengembalikan jerami ke dalam tanah merupakan cara terbaik untuk mengurangi kehilangan S.
Konsentrasi unsur hara mikro dari jerami padi sawah berkisar antara 5 mg/ kg untuk Cu dan 200 mg/kg Fe. Membenamkan jerami ke dalam tanah, me-ningkatkan ketersediaan Fe dan menunmkan Zn. Meskipun Si bukan merupa-kan unsur hara esensial, tetapi pengaruhnya untuk tanaman padi tidak secara langsung (Yoshida, 1981). Jerami padi mengandung 5% Si. Mengembalikan jerami segar atau abu bakaran akan membantu dalam ketersediaan Si. Kelebihan Si kemungkinan akan menurukan ketersediaan Zn (IRRI, 1981).
Pustaka
Penerapan pertanian organik: pemasyarakatan dan pengembangannya Oleh Rachman Sutanto

About these ads
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s