Sebuah “Peluang” Pemahaman Dan Tindakan

Dalam kontestasi wacana agama dan AIDS, pemahaman epidemi AIDS yang tidak hanya berkutat pada moralitas individu, tetapi juga sebagai persoalan struktural, akan mendorong agama untuk berperan lebih konkret. Kenyataannya, respons agama selama ini, yang hanya melulu membicarakan moralitas, hanya bisa menyentuh aspek pencegahan (prevention), terlepas dari evaluasi efektivitasnya.

Pertanyaannya, bagaimana dengan respons agama lebih lanjut? Bagaimana agama dan teologi berperan bagi orang-orang yang sudah telanjur terinfeksi? Apakah agama hanya bisa merekomendasikan pertobatan? Bisakah masjid, pesantren, ataupun lembaga-lembaga agama berperan lebih?

Teologi kasih sayang berangkat sama sekali bukan dengan semangat untuk membela pendosa, melainkan dengan semangat untuk membebaskan orang-orang yang memang tertindas dan terkucilkan di tengah masyarakatnya. Dalam konteks HIV, AIDS, dan agama, satusatunya cara adalah dengan mencoba memahami kompleksitas AIDS secara lebih luas dan komprehensif, sehingga agama bisa terbuka dan mampu menawarkan alternatif respons yang lebih terbuka.

Kita akan lebih detail mempelajari pergulatan respons agama terhadap wacana AIDS, antara yang moral behaviorist dan yang progresif. Tentu saja, pengetahuan kita tentang respons-respons agama ini tidaklah cukup, karena sebenarnya agama tidak hanya dibutuhkan untuk memiliki opini tertentu atas krisis AIDS, tetapi agama bisa memiliki kepedulian untuk bisa berdiri bersama ODHA sebagai korban, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.

Setidak-tidaknya, pengetahuan kita tentang pergulatan respons Islam atas masalah AIDS akan meniscayakan keterbukaan kita dalam melihat potensi agama yang bisa diambil untuk membantu mengatasi krisis AIDS di negeri ini. Kita akan mengetahui bahwa sebenarnya HIV & AIDS hanyalah sebuah simbol yang menjadi peluang bagi kalangan yang berbeda-beda untuk memberikan makna. Bagi para peneliti medis, HIV & AIDS adalah peluang bagi sebuah penelitian yang subur. Bagi para produsen obat, HIV-AIDS adalah peluang untuk meraup keuntungan besar. Bagi agama pun, AIDS adalah peluang wacana untuk direspons dan diperdebatkan.

Pada akhirnya kita akan mengetahui bahwa bagi agamawan pengusung moralitas dan dakwah anti-maksiat, HIV & AIDS adalah peluang bagus untuk membuktikan bahwa wabah ini adalah bukti pentingnya moralitas bangsa. Di lain pihak, bagi kalangan agamawan yang progresif, HIV & AIDS juga merupakan sebuah peluang untuk pembelaan bagi para korbannya, demi mengangkat isu-isu kemanusiaan.

Bagaimanapun, agama sebagai sistem kepercayaan dan motor perubahan sudah sepatutnya dilibatkan atau melibatkan diri dalam upaya menciptakan iklim negara yang sehat dan bangsa yang dewasa. Keberhasilan Uganda dalam melibatkan tokoh-tokoh agama untuk penanggulangan HIV & AIDS bisa dijadikan contoh bagaimana penentu kebijakan dan agamawan bisa bersama-sama menggunakan potensi yang ada untuk kemaslahatan bersama menanggulangi krisis

Pustaka

Aids Dalam Islam Oleh Ahmad Shams Madyan

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s