Penghasil Dan Penyeimbang Oksigen

Oksigen merupakan kebutuhan mutlak bagi makhluk hidup, khususnya manusia, untuk proses respirasi yang bersama hidrogen akan membentuk air yang merupakan cairan utama dalam penyusunan tubuh. Karena makin banyak eksploitasi sumber daya alam, terutama lahan yang dijadikan industri, perumahan, perkantoran, dan lain-lain, maka jumlah oksigen makin menurun. Berdasarkan foto-foto yang direkam satelit NASA, pembabatan hutan di Amerika Serikat ternyata lebih parah dari pada di negara-negara berkembang.

Disebutkan bahwa dari 10 juta hektar hutan asli dari California Utara sampai Kanada, tinggal 10% yang masih ada. Untuk Indonesia sendiri, rekaman foto satelit didapatkan bahwa 80% hutan lindung dan hutan konservasi ternyata masih baik dan hutan 65% produksi masih serta 55% hutan konversi masih dalam keadaan baik. Sedangkan vegetasi, terutama luas hutan, ikut makin berkurang, sehingga peningkatan suhu udara terjadi di mana-mana. Suhu rata-rata di permukaan bumi dewasa ini adalah 15° C dan saat ini sudah dianggap mantap sehubungan dengan kehadiran gas-gas rumah kaca, seperti uap air (H20), Karbon dioksida (CO’2), Nitrogen oksida (No), ozon stratosfir (03), karbon monoksida (CO), dan khlorofluoro (CFC).

Hutan sangat bernilai bukan saja karena kayunya, tetapi justru karena sumber daya alam dan sumber hayatinya. Hutan dengan sumber daya alamnya mampu mencegah terjadinya kekeringan dan kepanasan serta cuaca buruk akibat angin topan yang sangat merugikan manusia. Sebagai pencegah kekeringan, hutan mampu menyimpang berjuta-juta kubik air yang siap dialirkan ke sungai-sungai berupa mata air dan uap air ke udara sebagai proses awal timbulnya hujan.

Hutan merupakan pensuplay air hujan hasil penguapan vegetasi ke udara dan diturunkan kembali berupa hujan. Ekern (1964) mencontohkan di Hawai pada kawasan pertanaman Araucaria heterophylla yang mampu mengembunkan sejumlah 760 mm. Kenaikan tersebut makin besar pada musim kemarau dengan cara mengimbaskan penangkapan awan melalui simulasi pengaruh pohon-pohon yang akhirnya berakibat daerah sekitar lembap. Apabila hal ini terjadi di daerah tinggi, maka yang timbul adalah kabut serta gerimis bahkan dengan kabut tebal akan berakibat turunnya hujan.

Beberapa penyebab timbulnya perubahan iklim dunia yang dianggap sangat serius saat ini adalah naiknya kadar CO2, dan CFC (chlorofluorocanbon) yang berasal dari bahan penyemprot, bahan alat pendingin, asap knalpot mesin, industri, pembakaran kayu/hutan dan perubahan tataguna lahan yang berakibat terbentuknya “greenhous ” di atmosfir, serta akibat akti vitas ekonomis manusia di bumi. Konsentrasi CO2, di atmosfir telah naik dari 290 ppm menjadi 350 ppm selama 100 tahun terakhir ini dan diperkirakan akan mencapai 400 — 550 ppm pada tahun 2030. Jumlah ini tidak akan cepat berkurang selama pemenuhan tumbuh-tumbuhan, terutama hutan, terus berkurang bahkan upaya pengurangan pemakaian CO2, tidak dapat total dan sedikit demi sedikit terus bertambah di atmosfir.

Sedangkan proses geokimia dengan proses penyerapan oleh tumbuhan membutuhkan waktu yang sangat lama. Menurut para pakar meteorologi, iklim bumi tidak bergejolak lebih dari 1° C – 2°C dalam kurung waktu 10.000 tahun terakhir karena kemungkinan penambahan panas akan terjadi dalam 50 tahun mendatang (± 2050). Kenaikan suhu bumi pada abad XXI tersebut diperkirakan sebesar 2° C — 6°C. Peristiwa perubahan iklim ini tentu berakibat sangat fatal bagi kehidupan di permukaan bumi, seperti bidang pertanian karena kehidupan pohon akan mengeser penyebarannya ke arah kutub.

Di daerah-daerah pertanian marginal dengan sistem tadah hujan akan menderita karena tidak mungkin untuk menyesuaikan dengan kondisi baru tersebut. Belum lagi kemungkinan terjadinya perubahan ekosistem alam, meluasnya padang rumput dan gurun, areal hutan menyusut dan bergerak ke arah kutub. Sedangkan daerah kutub sendiri karena menaiknya suhu laut menggakibatkan mencairnya sebagian besar bongkahan es. Akhirnya, terjadi peningkatan volume air laut sekitar 20 cm — 140 cm jika suhu berada pada 1,5° C — 4,5°C. Kalau kenaikan suhu rata-rata sebesar 3° C, maka kenaikan air taut akan menjadi 80 cm sehingga mengakibatkan banyak daerah pantai yang terendam.

Menurut Brinkman (1990), permukaan air laut pada tahun 2030 diperkirakan akan naik setinggi 20 cm dan pada tahun 2100 naik 70 cm jika tidak segera diantisipasi. Berarti, kota-kota pantai yang berada di delta dan dataran rendah seperti Bangkok, Jakarta, Rotterdam, Shanghai, dan lain-lain akan terendam. Sekitar 25% — 80% daerah pantai basah di Amerika Serikat mengalami kerusakan (Primack dkk., 1998) dan kota-kota daerah rendah akan mengalami perendaman di bawah air selama 100 tahun. Oleh karena itu, ahli-ahli menyarankan adanya pengusahaan penurunan emisi gas rumah kaca sampai sebesar 50% sesegera mungkin, yaitu pengusahaan dalam penyeimbangan 02 di udara.

Salah satu usaha tersebut adalah dengan jalan melestarikan hutan atau mengkonservasi vegetasi di muka bumi ini karena vegetasi mampu mengendalikan gas rumah kaca dengan jalan menyerap CO.2. Unsur CO.2 ini tidak hanya diserap oleh hutan, tetapi juga diserap oleh kehidupan dasar lautan yakni phvtoplankton. Unsur CO.2 apabila digambarkan dengan angka ternyata 23 miliar ton/tahun berasal dari bahan bakar fosil dan 5 miliar ton/tahun basil dari deforestasi (Sauer,1990). Unsur CO, umumnya sebagian besar atau sekitar 70% berasal dari negara-negara industri Barat dan Timur.

Suatu pohon sangat berperan dalam menghasilkan oksigen, maka pemukiman yang makin bertambah padat, khususnya di lingkungan perkotaan, harus mengupayakan penanaman berbagai macam vegetasi. Peranan tumbuhan berkayu sebagai komponen ekosistem kota dapat bentuk bermacam-macam, misalnya taman, jalur hijau, kebun, dan pekarangan. Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia karena menyerap CO2 dan mengeluarkannya kembali dalam bentuk 02 meskipun persentasenya sangat kecil sekali.

Sebagai pencegahan pencemaran udara, hutan mampu menangkal polutan gas ataupun butiran padat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume udara mengandung polusi gas ozon sebesar 150 ppm gas ternyata 90%-nya terserap oleh tegakan hutan dalam waktu 8 jam. Kompleks industri yang mengeluarkan polutan belerang dioksida di Uni Rusia ternyata terkurangi dengan adanya jalur vegetasi kayu selebar 500 m yang mengelilingi kawasan industri tersebut. Tumbuhan berkayu ataupun pohon memang diandalkan dalam penyelamatan keadaan lingkungan, seperti tanah, air dan udara, walaupun peran pohon tersebut sebatas pada lingkungan yang belum akut.

Pohon memang tidak akan mampu menetralisasi polusi, terutama pada kawasan industri. Beberapa jenis pohon, misalnya Acesachaniin dan Betula sp. mampu mengabsorbsi belerang dioksida, tetapi kedua jenis pohon tersebut rusak akibat gas belerang dioksida tersebut. Penyerapan gas belerang dioksida yang dilakukan pohon justru memperburuk kondisi pohon itu sendiri bila tanah, air, dan udara sudah tercemar. Dengan demikian, unsur-unsur yang dibutuhkan oleh pohon tersedia dalam bentuk beracun/tercemar. Akhirnya, pohon tumbuh merana, daun-daun mempunyai warna lain, dan bentuk pohon umumnya kerdil.

Di beberapa negara, misalnya Eropa, Kanada, dan Amerika, sejak tahun 1960 telah dilanda,forest decline, yaitu peristiwa kematian pohon, pelonggaran tajuk, perubahan warna daun, kerusakan perakaran, serta merosotnya riap dan regenerasi (Sarokim dan Schulkin, 1992). Gejala forest declin ini diakibatkan oleh polutan-polutan seperti dioksida dan Hidrogen fluorida dari industrialisasi. Akibatnya, asap industri berubah menjadi uap air dan diturunkan kembali menjadi hujan asam yang mempengaruhi pertumbuhan pohon dan produktivitasnya merosot.

Pohon yang difungsikan sebagai taman kota (hutan kota) hanya sebatas estetika dan sedikit penyegar udara dan penyimpan air bila tumbuh dan berkembang di kawasan tanpa industri. Peran taman kota yang ditujukan untuk menyerap polusi udara hasil polutan kendaraan bermotor sangat sulit sekali, tetapi bila polutan debu melalui dedaunan yang berbulu sangat efektif.

Pustaka
Hutan & kehutanan Oleh Arifin Arief

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s