Individu dan Lembaga Sosial Lain dalam Masyarakat

Pendidikan karakter di dalam sekolah akan semakin efektif dan menjadi gerakan bersama bila yang terlibat bukan hanya lembaga sekolah dan keluarga, melainkan melibatkan sebanyak mungkin pihak yang dapat membantu meningkatkan dan mendukung dilaksanakannya pendidikan karakter di sekolah.

Kesadaran akan wawasan wiyatamandala ini sangat penting mengingat sekarang ini batas antara dinding sekolah dengan masyarakat menjadi semakin tipis. Apa yang dipelajari di balik dinding sekolah di dalam ruangan kelas bukanlah sebuah pembelajaran yang berguna semata-mata di dalam kelas itu sendiri, melainkan menjadi sarana persiapan untuk memasuki dunia luas yang tanpa batas. Untuk inilah, pendidikan karakter di sekolah mesti melibatkan masyarakat sekitar, atau masyarakat lokal sehingga pendidikan karakter bertumbuh di sebuah lahan tanah yang realistis.

Laboratorium bagi pendidikan karakter bukanlah sekolah dan rumah, melainkan juga lingkungan masyarakat sekitar. Pendidikan karakter akan menemukan verifikasi nilainya secara konkret justru ketika pembelajaran akan norma dan pola perilaku yang membentuk individu itu lama-kelamaan menjadi sistem nilai bersama yang mampu menyangga stabilitas dalam masyarakat.

Pendidikan karakter dalam hal ini bukan sekadar memaknai masyarakat sebagai tempat di mana pada akhirnya pendidikan karakter itu mesti¬nya hadir, namun juga menjadi sarana pedagogis bagi masyarakat di luar sehingga mereka pun menjadi satu bahu-membahu menyuburkan perilaku dan tata nilai yang bermakna dan berguna bagi tatanan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, program pendidikan karakter apa pun tidak dapat melepaskan diri dari tatanan dan sistem nilai di dalam masyarakat lokal yang menjadi sumber pengayaan budaya bagi program pendidikan karakter di sekolah.

Paling tidak ada dua program yang bisa dipertimbangkan tentang jangkauan kerja sama antara sekolah dan lingkungan sekitar. Pertama, program yang dasarnya adalah keterlibatan komunitas (community-based). Dan kedua, kerja sama dengan media untuk diseminasi pendidikan karakter yang dilakukan oleh sekolah.

Program pendidikan karakter di dalam komunitas memberikan perhatian bagi kerja sama antara sekolah dengan otoritas lokal, entah dengan tokoh masyarakat, maupun dengan pemerintahan lokal untuk membantu menciptakan lingkungan pendidikan karakter yang integral. Dalam hal kerja sama ini, perlulah dihindari sebuah pendekatan bagi pendidikan karakter yang sifatnya opresif.

Pendekatan yang opresif dan bertentangan dengan nilai pedagogis, misalnya pemerintah DKI Jakarta akan membuat semacam peraturan daerah tentang jam wajib belajar masyarakat. Untuk membantu kedisiplinan siswa agar tidak keluyuran. tak disiplin dalam belajar, pemerintah daerah akan menentukan waktu untuk wajib belajar bagi para siswa. Situasi ini, memaksa setiap siswa agar pada jam-jam yang ditetapkan tetap berada di rumah dan belajar. Atau seperti terjadi di beberapa tempat, para petugas tramtib mengadakan razia untuk menangkap anak-anak sekolah yang berada di luar sekolah ketika mereka semestinya masuk sekolah.

Pendekatan seperti di atas tidak akan membantu menumbuhkan karakter dan kepribadian anak, sebab secara pedagogis anak hanya di-hadapkan pada otoritas yang memaksa, dalam hal ini otoritas negara dalam melaksanakan kedisiplinan. Pemerintah daerah yang membuat peraturan demikian, dan petugas tramtib yang suka merazia anak-anak ini tidak memahami sama sekali apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter atau pendidikan watak. Mereka menganggap bahwa pendidikan karakter itu sekadar anak taat belajar di rumah, atau taat masuk sekolah dan tidak membolos. Mereka lupa, bahwa pendidikan karakter itu hanya bisa tumbuh subur seandainya anak diajak untuk bertanggung jawab atas kebebasan yang mereka miliki. Untuk inilah pemerintah lokal dan masyarakat setempat semestinya mengadakan dialog dengan pihak sekolah dan orangtua tentang bagaimana mendidik anak-anak ini agar mereka menjadi warga negara yang memiliki kebebasan dan bertanggung jawab.

Cara-cara pengaturan dan pendisiplinan anak sekolah melalui peraturan daerah, dan cara-cara merazia mereka akan menimbulkan sikap antipati yang membuat pendidikan karakter tidak efektif. Mereka akan belajar bahwa kekuasaan itu bisa secara sewenang-wenang membelenggu kebebasan mereka. Padahal yang diperlukan adalah mendidik anak-anak itu untuk dapat mempertanggungjawabkan kebebasannya bagi diri mereka sendiri maupun bagi masyarakat.

Dalam kerja sama dengan media, pendidikan karakter membutuhkan bantuan media untuk menyebarkan gagasan dan nilai-nilai yang ingin ditanamkannya dalam diri anak-anak di sekolah. Media massa memiliki fungsi yang sangat strategis sebagai sarana diseminasi nilai. Diseminasi nilai memerlukan sebuah ranah publik yang jangkauannya mengatasi pagar-pagar sekolah, sebab pada hakikatnya, setiap individu di dalam masyarakat juga memerlukan pendidikan karakter.

Sekolah bisa bekerja sama dengan media, melalui iklan, sponsor, atau publikasi di majalah, koran, atau radio untuk menyampaikan pemahamannya tentang salah satu nilai yang ingin ditanamkan dalam kurun waktu tertentu. Semakin terdapat komunitas besar yang terlibat dalam pendidikan karakter anak, seperti orang tua, lembaga agama, masyarakat luas, koran, media, dan televisi, usaha untuk menyebarkan gagasan tentang pendidikan karakter akan lebih menghasilkan buah yang lebih besar.

Pendidikan karakter akan menuai hasil yang lebih baik, bukan hanya tertanamnya nilai-nilai itu dalam diri para siswa, melainkan menjadi satu gerakan bersama dalam masyarakat. Jika masyarakat secara integral memandang pentingnya pendidikan karakter, sistem kontrol bagi kedisiplinan siswa itu tidak perlu diwadahi dalam aturan hukum, melainkan cukup berupa sanksi sosial. Sanksi sosial akan memberikan dampak dan memiliki fungsi pedagogis yang lebih bagus dalam diri anak. Sanksi sosial bukan merenggut kebebasan dalam diri individu yang kebetulan telah bertindak bertentangan dengan tata nilai dalam masyarakat, melainkan memberikan rasa malu secara sosial, yang pada gilirannya akan memberikan dampak formatif bagi individu untuk memperbaiki diri secara terus-menerus tanpa kehilangan kebebasan asasinya.

Pustaka
Pendidikan karakter Oleh Doni Koesoema A.

This entry was posted in Pendidikan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s