Kebijakan Negara

Pendidikan karakter mestinya merupakan sebuah keprihatinan bersama seluruh bangsa, dan karena itu, negara yang memiliki aparatur di bidang pendidikan semestinya memanfaatkan kewenangan yang dimilikinya untuk mengembangkan pendidikan karakter. Pengembangan pendidikan karakter bisa dilaksanakan melalui rencana anggaran, program-program pendidikan, dan pendekatan kurikulum yang berjiwa pendidikan karakter.

Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden George Bush, misalnya, menganggarkan 25 miliar dollar untuk pendidikan karakter, sehingga aparatur negara, agen pendidikan lokal, orang tua, dan siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan karakter dan mempromosikan nilai-nilai. Sementara di negara kita, 20 persen anggaran negara yang semestinya dialokasikan untuk dunia pendidikan tampaknya masih jauh dari realitas politik kita.

Selain itu, kebijakan pendidikan karakter semestinya dilandasi dengan reksa penelitian yang valid. Tanpa penelitian yang mendalam tentang pendidikan karakter kita tidak akan memperoleh dasar-dasar pedagogis yang baik bagi efektivitas pendidikan karakter.

Meskipun pendidikan karakter telah disadari kepentingan dan kemendesakannya, karena kurangnya penelitian ilmiah tentang hal ini, kalangan pendidik, masyarakat, dan aparatur pemerintah seringkali menjadi kikuk dan bingung ketika dihadapakan pada persoalan seputar pendidikan karakter. Rancunya pemahaman tentang pendidikan karakter dengan pendidikan moral, pendidikan nilai, pendidikan agama, dan pendidikan kewarganegaraan menunjukkan kurangnya wawasan dan pemahaman tentang pendidikan karakter.

Berhadapan dengan kemerosotan moral dalam masyarakat, para pendidik seringkali menyederhanakan persoalan sekadar pada lemahnya iman dan pengetahuan agama sehingga untuk mengatasinya, pendidikan agama menjadi mutlak diperlukan. Kesalahan pandangan seperti inilah yang membuat pembaruan apa pun yang mengatasnamakan pendidikan karakter tidak tepat sasaran.

Kesungguhan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional semestinya disertai dengan perencanaan matang tentang program pendidikan karakter yang sifatnya nasional, melalui pendalaman tentang metode, pembiayaan, dan pelaksanaan yang efektif, dengan sistem supervisi dan transparansi publik yang bisa dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itulah, pendidikan karakter semestinya menjadi pedoman bagi setiap pegawai pemerintahan dalam membuat program-program pendidikan. Kebocoran anggaran, ketidaktepatan sasaran kebijakan, korupsi, dll, merupakan hal-hal yang sangat jauh dari semangat pendidikan karakter. Sayangnya, perilaku tidak bertanggungjawab, sikap-sikap arogan yang emoh rakyat, korupsi telanjang tanpa malu yang dilakukan oleh pejabat negara, bahkan pejabat di lingkungan departemen pendidikan yang berkolusi dengan wakil rakyat semakin menambah daftar panjang bahwa dalam diri aparatur para pejabat pemerintahan jiwa pendidikan karakter itu tidak ada. Kasus voucher pendidikan maupun dugaan penggunaan anggaran negara demi kepentingan pribadi atau kelompok yang dibiarkan terus menerus terjadi oleh para petinggi yang mengatur negeri ini akan semakin membuat pendidikan karakter jauh dari kenyataan politik kita.

Untuk itu, yang kita butuhkan adalah kehadiran negarawan dan wakil rakyat yang peka dan cinta akan negara, sehingga dalam reksa politik mereka, mereka memiliki kehendak politik terutama untuk mengutamakan kepentingan rakyat. Sikap peduli rakyat ini diwujudkan melalui berbagai macam program dan kebijakan politik pendidikan yang mampu mengembangkan jiwa pendidikan karakter. Jika anggaran bagi pendidikan masih terasa kecil, mungkin karena alasan krisis ekonomi, atau karena kesalahan keputusan politik yang dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya, pars negarawan ini sesungguhnya tetap memiliki fungsi edukatif yang membantu pembentukan pendidikan karakter bagi warga negara, yaitu, dengan memberikan keteladanan moral sebagai seorang negarawan sejati. Rupanya, keteladanan seorang negarawan inipun sangat sulit kita temui di negara kita. Karena itu, jangan mengharapkan bahwa kebijakan nasionlal kita akan memberi perhatian pada pendidikan karakter. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa kita juga mesti berhenti mengusahakan hadirnya kultur pendidikan karakter yang menjadi pandu bagi pembentukan manusia Indonesia di masa depan.

Pustaka
Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global Oleh Doni Koesoema A.

This entry was posted in Pendidikan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s