Lemahnya Teknologi

Akhir juni 2007, Komisi Eropa melalui Badan Keselamatan Penerbangan Eropa melarang maskapai-maskapai penerbangan Indonesia untuk terbang ke semua negara anggota Uni Eropa (UE). Alasannya, keamanan maskapai-maskapai Indonesia dinilai tidak memenuhi standar penerbangan. Sepintas lalu, tindakan ini tidak menjadi pukulan berat bagi Indonesia, karena Garuda sudah tidak terbang lagi ke Eropa dan tidak pernah ada maskapai Indonesia lainnya terbang ke sana. Namun, berhentinya Garuda terbang ke Eropa sudah merupakan tanda kemunduran. Sebelumnya, sudah berapa tahun maskapai penerbangan nasional kita mengisi beberapa jalur penerbangan ke Eropa, di samping maskapai-maskapai besar lainnya? Waktu itu banyak orang Eropa tanpa ragu-ragu memilih Garuda. Bahkan dua tahun berturut-turut Garuda berhasil memperoleh penghargaan Punctuality Intercontinental Airlines dan bandar udara Schiphol, Amsterdam, karena paling tepat waktu dalam berangkat dan tiba di sana (tahun 2000 dan 2001).

Keputusan Komisi Eropa itu sebenarnya sangat mengejutkan, karena menunjukkan ketidak percayaan dunia internasional terhadap keamanan penerbangan di Indonesia. Australia dan Amerika Serikat sebelumnya sudah menyatakan sikap yang sama. Dan masuk akal saja bahwa UE tidak saja melarang maskapai Indonesia memasuki langit Eropa, mereka juga menasihati para warganya untuk tidak memakai pesawat terbang domestik bila datang di Indonesia. Dalam hal ini Indonesia langsung mengalami kerugian besar, terutama dalam sektor pariwisata, tapi juga dalam banyak sektor lain. Para duta besar Eropa, pebisnis Eropa, atau wakil LSM Eropa tidak lagi bisa terbang ke daerah bila hubungannya hanya dengan pesawat domestik. Situasi yang aneh dan memalukan.

Tidak sulit memiliki dan menggunakan teknologi. Pesawat terbang dan alat-alat teknis lain dapat dibeli dan langsung dipakai. Lebih sulit adalah menggunakan teknologi itu dengan tepat. Pemakaian teknologi selalu ada syaratnya, antara lain dari sudut keamanan. Masyarakat awam tidak sanggup menilai keamanan pesawat terbang, gedung bertingkat, jembatan, atau produk teknologi lain. Menjadi tugas negara untuk mengatur dan mengawasi keamanan itu. Dalam bidang penerbangan, hal itu malah harus diatur pada taraf internasional. International Civil Aviation Organisation (ICAO) adalah instansi kerja sama antar bangsa yang menentukan standar-standar keamanan. Mau tidak mau, semua negara harus tunduk pada peraturan internasional itu.

Tidak dapat disangkal, di Indonesia terjadi terlalu banyak kecelakaan dengan pesawat terbang. Ada kecelakaan fatal, seperti terjadi dengan pesawat Garuda di Yogyakarta bulan Maret 2007. Ada juga kecelakaan yang tidak menelan korban jiwa, tapi banyak menimhulkan kecurigaan, seperti kejadian sampai dua kali dalam beberapa minggu terakhir ini ketika pesawat kehilangan komponennya (keping ekor atau penutup mesin) saat pesawatnya mengudara. Warga negara Indonesia pun yang menjadi pemakai jasa penerbangan domestik harus bersyukur kepada LIE dan ICAO, karena mereka tidak mau kompromi dalam menuntut keamanan penerbangan. Kita mengharapkan hal itu akan menjadi cambuk bagi pemerintah agar mewujudkan standar keamanan penerbangan internasional di dalam negeri juga.

Kelemahan manajemen teknologi tidak saja tampak dalam konteks transportasi udara. Dalam transportasi darat pun keadaannya tidak bagus. Terlalu banyak terjadi kecelakaan lalu lintas. Jika semua korban kecelakaan lalu lintas dijumlahkan, setiap tahun terjadi bencana nasional besar di jalan-jalan kita, antara lain masih jatuh banyak korban kecelakaan sepeda motor. Sudah cukup lama diberlakukan kewajiban memakai helm pelindung kepala bagi pengemudi sepeda motor, tapi pelaksanaan peraturan ini tidak efektif sama sekali. Tidak ada standar yang menentukan helm mana memenuhi syarat dan helm mana tidak. Topi pengaman proyek pun boleh dipakai. Dan banyak pengemudi sepeda motor tidak mengikat helmnya. Bahkan ada yang memakai helm tanpa tali pengikat sekalipun.

Perkeretaapian adalah bidang transportasi lain yang mencolok mata karena banyaknya kecelakaan. Jika pariwisata dan Eropa dilarang oleh pemerintah mereka untuk memakai pesawat terbang domestik di Indonesia, belum tentu dalam kereta api mereka lebih aman. Tetapi di sini tidak berlaku pengawasan internasional. Karena keadaan geografis negara kita sebagai kepulauan, jaringan rel kereta api kita tidak bersambung dengan negara tetangga dan tidak pernah kita didatangi oleh kereta api dari luar negara. Sayang sebenarnya, sebab dengan demikian di sini kita tidak mempunyai perangsang untuk mewujudkan standar internasional.

Sektor teknologi lain lagi di mana manajemen kita sangat lemah adalah perlistrikan. Padahal, tenaga listrik merupakan faktor yang maha penting dalam masyarakat modern. Bagaimana kita mau ikut dalam era ICT (Information and Communication Technology) kalau tenaga listrik tidak dapat diandalkan? Terutama dari daerah di luar Jawa kita mendengar keluhan terus-menerus tentang pelayanan PLN. Bahkan ada beberapa tempat di Jawa yang tidak luput dari suasana “mati lampu”. Sistem jaringan listrik Jawa-Bali dikabarkan masih tetap dalam keadaan rapuh, meskipun akhir-akhir ini tidak terjadi gangguan besar-besaran. Sudah sering ditekankan bahwa tidak mungkin kita mengembangkan perekonomian selama persediaan tenaga listrik tidak cukup dan tidak berkualitas. Percuma saja kita menunggu investor dari luar negeri kalau tidak ada prasarana yang memuaskan, dengan unsur utamanya tenaga listrik.

Jika kita berefleksi tentang masalah manajemen teknologi ini secara spontan beberapa kasus timbul dalam ingatan. Misalnya, kasus lumpur Lapindo yang sudah begitu lama merepotkan masyarakat di kabupaten Sidoarjo. Tidak pernah menjadi jelas betul sebabnya apa. Tetapi kita mempunyai kesan bahwa sebab itu bersifat teknis. Seandainya teknologi pertambangan diterapkan dengan betul, rupanya musibah yang berkepanjangan ini tidak perlu terjadi.

Kasus lain adalah petualangan PT Dirgantara yang sudah lama melayang-layang antara hidup dan mati. Pernah ia dinyatakan pailit, tapi kemudian diizinkan lagi untuk bangkit berdiri. Ketika perusahaan ini mulai beroperasi, banyak orang berpendapat bahwa industri pesawat terbang terlalu ambisius dan terlalu riskan untuk keadaan kita. Banyak industri lain lebih pantas dikerjakan dulu. Industri pesawat terbang membutuhkan investasi besar, produknya tidak mudah dipasarkan, dan penanganan industri itu menuntut tersedianya manajemen teknologi tingkat tinggi. Mungkin pada mulanya dipikirkan bahwa unsur terakhir itu dapat dikembangkan sambil berjalan. Tetapi dalam kenyataan tidak terjadi begitu. Dan jangan kita lupa, negara berkembang lain dalam hal ini berhasil dengan gemilang. Industri pesawat terbang Brazil, bernama Embraer, belum lama ini mengambil alih industri sejenis di Kanada dan dengan demikian menjadi nomor satu di dunia dalam membangun pesawat jet penumpang ukuran menengah (Newsweek, 8-10-07).

Kasus lain lagi masih termasuk perspektif ke depan, yaitu rencana membangun Pembangkit Tenaga Listrik Nuklir (PTLN) di Muria, Jawa Tengah. Penyelenggaranya adalah Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Suatu proyek bergengsi, tapi juga rawan musibah. Seandainya terjadi kecelakaan dengan reaktor nuklir, dampaknya bisa luar biasa besar, bukan saja untuk negara kita sendiri, tapi juga untuk semua negara di sekitarnya. Tidak pernah boleh kita melupakan kejadian dahsyat di Chernobyl (1986). Dapat dimengerti bahwa Australia sudah berulang kali menyatakan keberatannya terhadap rencana PTLN. Ironis sekali, baru bulan September 2007 BATAN mengalami ledakan cukup besar di salah satu proyeknya yang kemudian diakui disebabkan oleh keteledoran. Syukurlah, di situ tidak dipakai bahan radioaktif. Bagaimanapun nasib rencana PTLN ini nanti, pasti ada pengawasan oleh bahan pengawasan tenaga nuklir dari PBB. Memang harus begitu, sebab sama seperti sistem penerbangan sipil, penggunaan tenaga nuklir pun bukan merupakan masalah yang terbatas pada negara bersangkutan saja. Dunia internasional berkepentingan juga.

Pustaka

Perspektif etika baru: 55 esai tentang masalah aktual Oleh Kees Bertens

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s