Idealisme Dan Moralitas

Profesi advokat merupakan profesi terhormat (officium nobile) karena profesionalisme terdapat di situ. Selain itu, profesi advokat bukan semata-mata mencari nafkah semata, karena di dalamnya terdapat idealisme (seperti nilai tentang keadilan dan kebenaran) dan moralitas yang sangat dijunjung tinggi. Sehingga profesi advokat juga berkaitan dengan nilai-nilai yang harus diperjuangkan.

Dengan demikian, seorang advokat tidak dapat terpaku begitu saja kepada hukum positif (kepastian hukum) dalam melakukan pembelaan terhadap kliennya. Tujuan utama hukum sebenarnya demi terciptanya keadilan dan kebenaran. Karena itu, ketika terjadi pertentangan antara hukum positif dengan keadilan serta kebenaran, maka yang harus diutamakan adalah keadilan serta kebenaran. Sehubungan dengan hal itu perlu diperhatikan pendapat dari Immanuel Kant yang berbunyi: Dalam hukum, seseorang bersalah kalau ia melanggar hak orang lain. Dalam etika, orang bersalah kalau ia berpikir untuk melakukan sesuatu yang tidak boleh.

Selain itu, advokat dalam menjalankan pekerjaannya harus memegang teguh sumpah advokat. Sumpah advokat di Amerika Serikat merupakan contoh yang baik, karena profesi itu dijalankan sesuai dengan sumpah advokat yang luhur dalam menegakkan hukum, keadilan, dan kebenaran. Bunyi sumpah itu:

I will not wittingly or willingly promote or sue any false, groundless of unlawful suit nor give aid and I consent to the same; I will delay no man for lucre or malice, but I will conduct myself in the office of an attorney within the court according to the best of my knowledge and discretion, and with all good fidelity as well to the court as my client. So help me God.

Bila kutipan itu diterjemahkan bebas berbunyi sebagai berikut.

Saya tidak akan, dengan kesadaran dan kemauan saya, menganjurkan atau menuntut suatu perkara yang palsu yang tidak berdasar hukum atau pun memberikan bantuan dan saya akan berbuat hal yang sama; Saya tidak akan menghambat suatu proses peradilan untuk keuntungan seseorang atau itikad buruk seseorang, tetapi saya akan menjalankan fungsi saya selaku advokat di dalam proses peradilan sesuai dengan pengetahuan dan kebijaksanaan saya yang terbaik dengan segala kesetiaan saya terhadap pengadilan maupun kepada klien saya. Tuhan, Bimbinglah daku.

Sedangkan sumpah yang diucapkan dan berlaku di Indonesia berbunyi sebagai berikut:

Saya berjanji, bahwa saya akan setia kepada Negara dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia; Bahwa saya berkewajiban untuk menghormati pejabat-pejabat kekuasaan kehakiman; Bahwa saya tidak, baik secara langsung maupun tidak langsung, menggunakan nama atau dalih apapun juga untuk memperoleh jabatan saya, telah atau akan memberi atau menjanjikan barang sesuatu kepada siapapun juga; Bahwa saya tidak menganjurkan seseorang untuk berperkara atau membela suatu perkara yang saya tidak yakin ada dasar hukumnya.

Sumpah advokat di atas juga didukung dengan ketentuan yang mengatur tentang Hukum Acara Dewan Kehormatan Ikatan Advokat Indonesia yang terdiri atas empat pasal. Selanjutnya khusus dalam Kode Etik Advokat Indonesia (tentang kepribadian advokat) yang dianggap penting untuk diperhatikan adalah Pasal 1.6 yang berbunyi berikut:

Advokat tidak dibenarkan melakukan pekerjaan lain yang dapat merugikan kebebasan, derajat dan martabat Advokat dan harus senantiasa menjunjung tinggi profesi advokat sebagai profesi terhormat (officium noble).

Berdasarkan kutipan pasal tersebut jelas bahwa profesi advokat merupakan profesi yang terhormat. Setiap advokat harus selalu menjadi dan menjunjung tinggi profesinya agar tidak merugikan kebebasan, derajat, dan martabat advokat. Terlebih lagi profesi advokat merupakan profesi yang bebas, artinya ia tidak boleh mempunyai ikatan-ikatan yang dapat membatasi kewajibannya membela klien, dengan cara yang jujur dan bertanggung jawab.

Misalnya, seorang advokat tidak boleh seorang pegawai negeri, karena dengan jabatan rangkap tersebut ia terikat kepada atasannya dan tidak bebas lagi dalam menjalankan profesinya. Sebagai pejabat ia harus tunduk pada perintah atasan.

Lebih jauh kebebasan profesi advokat dapat dilihat dalam Pasal 1.4, yang berbunyi sebagai berikut:

Advokat bekerja dengan bebas dan mandiri serta tidak dipengaruhi oleh siapapun dan wajib memperjuangkan hak-hak asasi manusia dalam Negara Hukum Indonesia.

Pustaka

Suara rakyat hukum tertinggi Oleh Dr.Frans Winarta,Frans Hendra Winarta

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s