Menghasilkan Uang Lewat Coretan Pensil

Artistik adalah bidang bagi kamu yang mencintai seni. Dunia yang menuntut kreativitas ini jika dimanfaatkan dengan baik ternyata dapat menjual Iho. Beberapa profesi yang terkait dengan dunia artistik antara lain: ilustrator, desainer grafis, desainer situs, setter, dan lain sebagainya. Inti dari tugas seorang artistik adalah memvisualisasikan bahasa tulisan dalam bentuk bahasa gambar. Baik itu ketika mendesain aksara, kartu nama, situs, poster, brosur, flyer, atau apa pun.

Berikut ini beberapa profesi artistik yang bisa kamu lakukan untuk mencari uang tambahan.

Ilustrator dan pembuat story board
Dulu, pekerjaan sebagai ilustrator memang kurang banyak peminatnya karena kebanyakan orang mengira pekerjaan ini tidak bisa menghasilkan apa pun selain sekadar coretan pensil. Namun, pendapat tersebut berhasil dipatahkan oleh salah satu teman kita, Shandy Rama Putra—mahasiswa bidang kajian Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Trisakti.

Awalnya, mahasiwa semester sembilan ini mengambil pekerjaan sebagai ilustrator hanya untuk pengisi waktu luang saja dan tidak pernah terpikirkan untuk serius mendalaminya. Dia juga tidak pernah menyangka bahwa ilustrator dapat menghasilkan uang yang cukup menggiurkan. Malah sekarang hasil karyanya dapat menarik perhatian perusahaan-perusahaan yang sudah cukup besar dan memiliki nama dengan honor yang cukup besar bagi kantong seorang mahasiswa.

Menjadi ilustrator seperti Shandy, caranya gampang kok. Kamu harus sering mengasah kemampuan menggambar dengan cara melatih visualisasi tulisan dalam bentuk gambar. Selain itu, kamu juga bisa menciptakan ciri khas tersendiri dalam menghasilkan karya. Misalnya, bentuk gambar yang seperti gambar manga—animasi Jepang, jika kamu suka budaya Jepang.

Atau, ciri khas lain, misalnya dalam unsur pewarnaan. Jika, kamu menyukai gothic maka warna yang dominan digunakan bisa menggunakan warna-warna gelap, seperti hitam atau biru tua. Semakin sering menggambar, dengan sendirinya ciri khas kamu akan tercipta.

Hal pertama yang bisa dilakukan sebelum membuat sketsa gambar adalah dengan memahami terlebih dulu keinginan klien. Kamu bisa berdiskusi dengan klien melalui email atau telepon untuk menanyakan detail keinginannya. Setelah itu, buatlah sketsa kasar. Jika klien dapat membuat gambar lebih detail lagi. Sebaliknya, jika klien menolak, kamu bisa membuat yang baru sesuai dengan keinginan klien.

Selain rajin berdiskusi dengan klien, ada baiknya kamu juga mempersiapkan peralatan gambar sendiri, antara lain sebagai berikut:

a. Komputer spesifikasi Pentium 4 dan RAM 256 MB yang dilengkapi dengan software Photoshop, Adobe Illustrator, Freehand, dan Coreldraw.

b. Graphic Pen/Tablet/Wacom yang gunanya sebagai pengganti pensil warna.

c. Lightbox, yakni meja yang dibawahnya terdapat lampu yang berguna untuk men-tracing sketsa kasar ke outline yang sudah rapi.

d. Sediakan pula pensil, penghapus, drawing pen, dan peralatan gambar standar Iainnya.

Sebagai permulaan, cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan pekerjaan ini adalah dengan mencari peluang-peluang di media cetak, seperti surat kabar.

Atau, bisa juga memanfaatkan situs layanan lowongan kerja, seperti http://www.karir.com atau http://www.jobsdb.com. Sebagai permulaan, kamu bisa menjadi freelance illustrator di penerbitan buku. Caranya, kirim lamaran berikut portofolio ke redaksi penerbitan yang bersangkutan.

Beberapa penerbitan akan memberikan kompensasi Rp 7.500 untuk setiap gambar berkarakter hitam putih (BW), Rp 13.000 untuk karakter situasi berwarna (FC), Rp 15.000 untuk karakter berwarna, dan Rp 20.000 untuk penggambaran situasi berwarna. Pembayaran ini berlaku untuk setiap gambar yang dibuat. Jadi, kalau dalam satu buku kamu membuat sekitar seratus ilustrasi situasi tanpa warna, kompensasi yang bisa diterima adalah Rp 1.500.000.

Hal Iainnya yang bisa kamu coba adalah dengan menjadi ilustrator untuk story board iklan. Story board ini berfungsi sebagai gambaran awal dalam iklan yang akan diproduksi. Penggambaran awal dari story board ini seperti saat kamu melihat komik yang nantinya akan dijadikan sebuah film. Pekerjaan ini biasanya dibutuhkan oleh sebuah rumah produksi khusus periklanan yang membuat iklan untuk disiarkan di televisi. Sebelum melakukan shooting, mereka akan menggunakan penggambaran awal sebagai pedoman dalam pembuatan iklan.

Pekerjaan seperti ini dilakukan oleh Alfi, mahasiswa Visual Institut Kesenian Jakarta. Untuk mengisi waktu luang, ia akan membuat story board sesuai pesanan klien hanya dalam waktu sehari saja. Saat mendapat panggilan untuk membuat story board, ia langsung mendatangi rumah produksi yang bersangkutan untuk membicarakan tema dan gambaran umum tentang iklan yang akan dibuat. Melalui diskusi ini, mereka banyak membahas tentang hal-hal apa saja yang harus dimasukkan ke dalam cerita, seperti karakter, tema, tempat, tipe iklan yang akan dibuat, atau sudut pandang apa yang akan diambil dalam proses shooting.

Dalam proses pembuatan story board tak ada salahnya jika kita juga memikirkan angle apa yang akan diambil. Hal ini tidak lain untuk memudahkan membuat story board jika kita sudah tahu lebih dulu sudut pandang dari mana iklan itu akan dibuat. Angle yang biasa digunakan adalah sebagai berikut.

a. Long shot atau establish shot, angle yang dipakai untuk awalan pengambilan gambar, biasanya menampilkan gambaran awal dari tempat yang akan dijadikan pengambilan gambar.

b. Close-up angle, digunakan untuk mengambil gambar dari jarak dekat. Pengambilan sudut pandang seperti ini difokuskan pada suatu yang akan dijadikan subjek gambar.

c. High angle, memberikan keterangan pengambilan gambar dari tempat yang lebih tinggi dari objek yang akan diambil. Sehingga hal yang akan diambil akan terlihat dari atas.

d. Low angle, dilakukan dengan membuat gambaran dari bawah sehingga objek yang akan diambil terlihat dari bawah ke atas.

e. Worm eye, penggambaran dilakukan dengan membuat penggambaran seperti cacing yang sedang berjalan di atas tanah, atau cacing yang sedang berjalan melewati lubang-lubang yang sudah dibuatnya.

f. Birdeye,penggambaran ini cukup unik karena kita menggambarkan sebuah objek yang diambil dari atas seperti dilihat oleh seekor burung yang sedang terbang.

Kalau kamu tertarik berprofesi sebagai pembuat story board, kamu bisa mengirimkan hasil story board yang sudah dibuat tentang produk iklan tertentu ke rumah produksi. Jangan lupa, ketika membuat story board, kamu juga harus memerhatikan durasi yang akan dibuat. Misalnya, untuk iklan berkisar lima belas detik, setiap detiknya bisa terdiri dari satu atau dua frame. Dengan begitu untuk durasi lima belas detik, kamu bisa membuat sekitar 30 frame.

Ukuran frame yang digunakan bisa dengan menggunakan kertas A4 atau A5. Kesemuanya ini tentu tergantung pula pada tingkat kerumitan yang kamu gambar. Dan, tentu saja terkait juga dengan kontrak perjanjian yang kamu buat dengan rumah produksi yang bersangkutan.

Tip-Tip
– Rajin melihat-lihat ilustrasi orang lain. Siapa tahu, bisa jadi inspirasi nuat kamu.
– Ilustrasi bisa di lihat tidak hanya dari buku tapi juga dari film dan internet.

Pustaka
21 Bisnis Sampingan untuk Mahasiswa Oleh Rani Koswara

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s