Makanan Fungsional Nabati


Tanaman yang dapat berperan sebagai makanan fungsional nabati.
Oat
Produk oat (sejenis gandum) telah banyak diteliti dan diketahui sebagai sumber serat pangan terlarut yang dapat menurunkan kadar kolesterol, yakni B-glukan. Telah dibuktikan secara ilmiah bahwa mengonsumsi produk ini akan menurunkan total kolesterol dan Low Density Lipoprotein (LDL) kolesterol, dan itu berarti mengurangi risiko penyakit jantung koroner (PJK). Efek ini telah resmi diakui oleh Food and Drug Administration (FDA) pada tahun 1997.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Quaker Oat Company melalui uji intervensi klinis pada 37 orang selama tahun 1980-1995, terbukti bahwa mengonsumsi sekitar 3 g P-glukan setiap hari, yang terdapat dalam 6o g produk oat (oat meal) kering, dapat menurunkan kadar kolesterol sebanyak 5%. Anak-anak berumur kurang dari 18 tahun yang mengonsumsi oat secara teratur mengalami penurunan obesitas 5o% lebih besar dibandingkan dengan anak yang tidak mengonsumsi oat.

Kedelai
Kedelai mendapat banyak perhatian selama tahun 1990-an. Komoditas ini tidak hanya mengandung protein berkualitas tinggi, tetapi juga dianggap berperan dalam mencegah dan mengobati PJK, kanker, dan osteoporosis, serta meredakan keluhan setelah masa menopause (menopausal symptoms). Berdasarkan penelitian, ternyata bahwa mengonsumsi kedelai akan menurunkan total kolesterol, LDL kolesterol (kolesterol jahat), dan trigliserida secara nyata, serta sedikit meningkatkan High Density Lipoprotein (HDL) (kolesterol baik). Asupan kedelai yang efektif minimal 25 g/hari.

Di samping protein, isoflavon dan fitosterol yang terdapat dalam kedelai turut berperan aktif untuk menurunkan kadar kolesterol, namun mekanisme kerja kedua komponen ini belum diketahui sepenuhnya. Kedelai juga mengandung zat antikanker, antara lain protease insinerator, fitosterol, saponin, asam bahenol, asam fitat, dan isoflavon. Di antara senyawa-senyawa ini, golongan isoflavon, yaitu yenistein dan daidzein, merupakan senyawa yang penting. Karena merupakan estrogen lemah, isoflavon dapat berfungsi sebagai antiestrogen. Senyawa ini berkompetisi dengan estrogen alami yang lebih potensial untuk berikatan dengan reseptor estrogen. Dalam makanan sehari-hari, kedelai merupakan sumber utama senyawa tersebut.

Kedelai juga berperan positif terhadap kondisi tulang. Konsumsi 40 g isolat protein kedelai per hari (mengandung 90 mg total isoflavon) akan meningkatkan kandungan mineral tulang secara nyata.

Mengonsumsi protein hewani dalam jumlah banyak akan meningkatkan hilangnya kalsium dari tulang. Hal ini menyebabkan ginjal bekerja lebih keras daripada biasanya sehingga risiko penyakit diabetes tipe 2 akan meningkat. Metabolisme asam amino yang mengandung sulfur (belerang) akan menghasilkan asam, dan untuk itu diperlukan pendapar atau penyangga pH (buffer). Asam yang terbentuk menyebabkan pengeroposan tulang. Sebaliknya, konsumsi kedelai menurunkan hilangnya kalsium dari tulang karena protein kedelai mengandung lebih sedikit asam amino sulfur dibandingkan dengan protein hewani.

Biji Rami
Minyak biji rami adalah minyak yang paling banyak mengandung asam lemak tak jenuh omega-3 dan asamp-linolenat. Akan tetapi, akhir-akhir ini yang banyak diperhatikan ialah senyawa yang berkaitan dengan serat, yang dikenal sebagai lignan. Biji rami merupakan sumber lignan, yakni prekursor mammalian lignan. Zat terakhir ini akan memengaruhi metabolisme estrogen dan testosteron.

Liang akan menghambat perkembangan testosteron, yang berperan dalam perkembangan kanker prostat. Ada dua lignan utama pada mamalia, yakni enterodiol dan enterolakton. Kedua lignan tersebut mempunyai struktur yang mirip dengan estrogen, memiliki aktivitas antiesterogenik, dan kemungkinan berperan dalam pencegahan kanker yang berkaitan dengan estrogen. Konsumsi biji rami ternyata juga dapat menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan agregasi platelet.

Tomat
Pada tahun 1997, telah diketahui bahwa karotenoid yang utama di dalam tomat adalah likopen, yang mempunyai efek menurunkan risiko kanker. Menurut penelitian Porrini dan Riso (200o), likopen yang dikonsumsi dari produk tomat dapat meningkatkan kadar karotenoid dalam darah dan mencegah kerusakan Deoxyribonucleic Acid (DNA) limfosit dengan meningkatkan mengasisteni terhadap tekanan oksidatif, dan ini berarti mengurangi risiko kanker. Likopen adalah karotenoid yang paling banyak ditemukan dalam kelenjar prostat. Kanker lain seperti kanker payudara, saluran pencernaan, serviks, kantong kemih, dan kulit berbanding terbalik dengan kadar likopen dalam serum dan jaringan. Mekanisme likopen untuk mencegah risiko kanker diduga berdasarkan sifat antioksidan dari likopen.

Selain mengurangi kanker prostat, likopen juga potensial untuk meningkatkan kesuburan pada laki-laki. Walaupun perlu pembuktian yang lebih teliti, sebuah penelitian di India menunjukkan bahwa pemberian 2 gram likopen per hari selama 3 bulan akan memulihkan laki-laki dari oligoasthenospermia (jumlah sperma rendah). Konsentrasi sel sperma ditingkatkan, demikian juga morfologi dan motilitas sperma diperbaiki.

Keropeng merupakan penetral oksigen singlet yang paling reaktif dalam sistem biologis. Sifat antioksidan ini juga dapat mencegah oksidasi LDL kolesterol menjadi bentuk aterogenik, yang berarti mengurangi risiko PJK. Produk tomat yang diolah dengan pemanasan seperti saus tomat ternyata menyumbangkan likopen enam kali lipat dibandingkan dengan tomat yang utuh dan segar. Selain tomat, likopen juga ditemukan dalam semangka, pepaya, dan anggur merah.

Bawang Putih
Khasiat bawang putih (Allium sativum) atau garlic dalam dunia ketabiban cina telah lama dikenal. Bawang putih memiliki efek farmakologis yang beragam, yakni mencegah kanker, antibiotik, antihipertensif, dan mampu menurunkan kolesterol.

Bau spesifik bawang putih disebabkan oleh banyaknya kadar senyawa sulfur organik yang larut dalam minyak dan air, yang juga merupakan zat aktif dari tanaman ini. Bawang putih yang masih utuh hanya mengandung sedikit komponen yang aktif. Bawang putih mentah mengandung 1-2% asam amino, alliM ESallyl cysteine sulfoxide; CH2 = CH-CH2-S (0)-CH2-AH (NH2)COOH], dan peptida -ayu-glutamil dari S-allyl cysteine. Senyawa-senyawa tersebut tidak berbau. Akan tetapi, bila bawang putih dihancurkan atau diiris-iris, alliin akan dapat kontak dengan enzim allinase yang terdapat dalam sel bawang putih. Enzim ini mengubah alliin menjadi allicin, suatu senyawa yang berbau khas.

Licinkan bersifat tidak stabil, mudah terurai menjadi berbagai senyawa sulfur organik yang sebagian merupakan zat aktif. Karena ketidakstabilan allicin ini dan variasi dari bawang putih yang digunakan, banyak peneliti bawang putih mengambil kesimpulan yang berkesan tidak konsisten. Larutan encer allicin dalam air lebih stabil.

Senyawa berkhasiat dalam bawang putih olahan bervariasi jumlahnya sehingga tidak semua sediaan bawang putih sama khasiatnya pada binatang percobaan, dan kemungkinan juga pada manusia. Perlu diperhatikan juga cara pengolahan dan pengaruhnya terhadap kandungan senyawa sulang organik aktif di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen aktif dalam bawang putih tidak spesifik terhadap suatu jenis kanker, tetapi berlaku secara umum.

Beberapa di antara senyawa hasil peruraian allicin berperan mencegah kanker melalui inhibisi sintesis nitrit dan nitrosamin (karsinogen). Efek ini terjadi diduga karena kuatnya daya ikat antara senyawa sulang organik dengan nitrit sehingga mencegah terbentuknya nitrosamin dari reaksi antara nitrit dengan senyawa amin.

Bawang putih dapat mencegah PJK kemungkinan melalui sifat antihipertensif dan menurunkan kolesterol. Ajoene, suatu senyawa thioallyl teroksigenasi dari bawang putih (tidak ditemukan dalam bawang putih mentah) bersifat antikoagulan pada hewan percobaan, dan mampu menginhibisi lipase lambung sehingga mengurangi absorpsi lemak.

Brokoli
Brokoli dan sayur-sayuran dari famili Cruciferae lainnya, seperti kembang kol (cauliflower) dan kol (cabbage), bersifat anti kanker. Khasiat antikanker ini dikaitkan dengan kandungan senyawa glukosinolat yang tinggi. Enzim nzyrosinase yang terdapat dalam sel sayur-sayuran akan mengabolisikan glukosinolat menjadi berbagai senyawa, antara lain isothiosianate dan indole yang diduga aktif sebagai antikanker.

Buah Jeruk
Penelitian epidemiologi memperlihatkan bahwa beberapa jenis buah jeruk dapat mencegah berbagai kanker pada manusia. Jeruk kaya akan senyawa phytochernicals yang dikenal sebagai limonoida, yang terdiri atas limonin dan nomilin. Kimono, yang menyebabkan rasa pahit pada buah jeruk, memiliki aktivitas biologis meningkatkan aktivitas Glututhione S-Transsferase (GST). GST adalah sistem enzim detoksifikasi yang mengabolisikan konjugasi gluthatione dengan elektrofil, termasuk karsinogen aktif. Konjugasi yang terbentuk bersifat kurang reaktif dan mudah larut dalam air sehingga mudah dikeluarkan dari dalam tubuh. Meningkatkan aktivitas enzim GST berarti meningkatkan perlindungan terhadap efek berbahaya dari zat asing, termasuk karsinogen. Banyak zat yang meningkatkan aktivitas GST menunjukkan hambatan terhadap karsinogenesis yang disebabkan karsinogen kimia.

Flavonoida yang terdapat dalam jeruk seperti nobiletin, tangeretin, dan polifenol Iainnva memperlihatkan sifat antikanker melalui berbagai mekanisme. Beberapa zat lain yang bermanfaat dalam jeruk ialah b-karoten, vitamin C, dan asam folat. P-karoten aktif sebagai antioksidan, yakni peredam radikal bebas terutama peroksil, hidroksil, dan oksigen singlet.

Radikal bebas mudah bereaksi dengan banyak ikatan rangkap dalam lipida dan membran yang mengelilingi sel-sel serta yang ada di dalam sel. Oksigen singlet adalah bentuk oksigen yang sangat reaktif dan berperan dalam reaksi-reaksi yang dapat mengubah atau menghancurkan komponen seluler yang penting seperti membran, enzim, dan asam-asam nukleat (misalnya DNA).

B-karoten bersinergi dengan vitamin C dan vitamin E. Oleh karena itu, B-karoten dapat melindungi tubuh dan mencegah berbagai penyakit, yakni menghambat pertumbuhan sel kanker, mencegah serangan jantung, mencegah katarak, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan mencegah serta mengobati penyakit kulit. B-karoten juga dapat melindungi lipida membran dari serangan radikal bebas, terutama dalam lingkungan tekanan partial oksigen yang rendah.

Vitamin C berfungsi sebagai antiskorbut dan antioksidan sehingga berperan dalam pemeliharaan pertahanan antioksidan, dan dengan demikian meredam efek radikal bebas. Sementara, asam folat berperan dalam metabolisme, yakni sebagai koenzim yang mentransfer fragmen karbon tunggal dari satu senyawa ke senyawa yang lain dalam metabolisme asam amino dan sintesis asam nukleat.

Buah jeruk juga merupakan sumber pektin yang penting. Serat pangan yang larut, misalnya pektin, sangat bermanfaat untuk menurunkan kolesterol darah. Mekanisme kerja senyawa ini diyakini dengan mengikat asam empedu dan kolesterol sehingga membantu pengeluaran kolesterol dari dalam tubuh, dan itu berarti mengurangi risiko PJK. Hubungan antara konsumsi pektin dengan kanker belum diketahui secara pasti karena basil penelitian memberikan kesimpulan yang tidak konsisten.

Teh
Komponen aktif dalam teh, terutama teh hijau, adalah golongan polifenol yang kadarnya mencapai 3o% dari berat kering daun teh. Katekin merupakan polifenol yang dominan dalam teh. Dalam teh hijau terdapat empat katekin utama, yakni epigallokatekin-3- gallat, epigallokatekin, epikatekin-3-gallat, dan epikatekin.

Khasiat polifenol dalam teh belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi teh dapat mengurangi risiko PJK karena polifenol yang terdapat dalam teh dapat mengurangi agregasi platelet sehingga mencegah trombosis koroner dan PJK. Di samping itu, polifenol juga bersifat antioksidan dan melindungi kerusakan makrokosmos dari proses oksidatif.

Anggur dan Buah Anggur
Telah ditemukan bahwa ada hubungan antara rendahnya risiko PJK di Prancis dengan konsumsi anggur merah. Mula-mula, rendahnya risiko PJK itu diduga karena pengaruh konsumsi alkohol dalam jumlah yang sedang setiap hari, tetapi kemudian ditemukan karena adanya kandungan flavonoida dalam anggur merah.

Anggur merah mengandung flavonoida 20-50 kali lebih banyak dibandingkan dengan anggur putih karena dalam proses pembuatannya dimasukkan juga kulit buah anggur. Anggur merah juga mengandung trans-resveratrol, yakni suatu fitoaleksin yang berasal dari kulit buah anggur, yang dapat mengurangi risiko kanker. Sari buah anggur efektif menghambat oksidasi LDI, kolesterol yang diisolasi dari manusia sehingga diyakini dapat mengurangi PIJAK.

Pustaka
Makanan Fungsional Oleh Jansen Silalahi

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s