Usahatani Konservasi

Usaha Tani

Agar pertanian dapat berjalan secara berkelanjutan, maka praktek/usaha dalam sektor pertanian juga harus memperhatikan daya dukung dan kesesuaian lahan untuk komoditi yang akan diusahakan, supaya lahan tidak cepat terdegradasi.

Untuk itu, perlu manajemen yang spesifik dengan memperhatikan karakteristik lahannya. Pada umumnya masalah paling dominan yang ditemukan pada lahan-lahan di Indonesia adalah masalah yang terkait dengan pencucian dan erosi, mengingat Indonesia berada pada wilayah dengan curah hujan yang tinggi dan lahan-lahannya berada pada tingkat kemiringan yang bervariasi dari <15% hingga >45%. Khusus untuk lahan-lahan yang berada pada daerah kering (dry land), masalah yang paling menonjol umumnya adalah kekeringan dan tingginya kepekaan tanah terhadap erosi.

Sistem usaha tani konservasi merupakan alternatif teknologi yang layak untuk dikembangkan guna mendukung usaha dalam menghasilkan produksi tanaman. Menurut Arsyad (2000), usaha tani konservasi adalah penggunaan tanah untuk kegiatan usaha tani secara efisien dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Konsep usaha tani konservasi adalah penyesuaian penggunaan tanah dengan kemampuan daya dukungnya. Pendapat lain (Sukma et al., 1990) menyebutkan bahwa usaha tani konservasi merupakan bentuk pengusahaan pertanian yang mengkombinasikan teknik konservasi, baik mekanik maupun vegetatif dalam suatu pola usaha tani terpadu.

Beberapa faktor yang kiranya perlu dipertimbangkan dalam usaha tani konservasi adalah: kemiringan lahan, kedalaman solum, kepekaan tanah terhadap erosi, dan teknologi sistem usaha tani.

Ada 4 (empat) komponen yang perlu diperhatikan dalam teknologi sistem usaha tani konservasi, yaitu:

– teknologi pengawetan tanah dan air,
– pola tanaman tahunan yang mendukung kegiatan konservasi tanah dan air,
– pola tanam semusim yang mendukung 1) dan 2), serta
– usaha tani ternak yang sesuai dengan 1), 2), dan 3) (P3HTA, 1985).

Di dalam kegiatan konservasi tanah dan air, secara umum dikenal dua cara usaha tani konservasi lahan, yaitu secara vegetatif dan mekanik. Cara yang pertama adalah penggunaan tumbuhan atau sisa tanaman untuk upaya konservasi tanah. Cara ini pada dasarnya adalah untuk menahan butir hujan yang jatuh sehingga dapat:
– mengurangi energi pukulannya terhadap permukaan tanah,
– mengurangi/menghambat kecepatan dan daya rusak aliran permukaan, – memperbesar kapasitas infiltrasi, dan
– mempertahankan kandungan air tanah.

Metode ini dapat dilakukan melalui:
– pola penataan tanaman,
– penggunaan varietas unggul, dan
– penanaman rumput atau legum pada bibir dan tampingan teras.

Cara kedua adalah melalui pembuatan bangunan-bangunan pencegah erosi dan manipulasi mekanik pada permukaan tanah, meliputi pembuatan:
– guludan,
– teras,
– saluran pembuangan air, dan
– bangunan terjunan air.

Model yang dikembangkan oleh “Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air” (P3HTA), sebagai salah satu proyek yang mengintroduksikan teknologi sistem usaha tani konservasi pada lahan kering DAS hulu, adalah mengkombinasikan metode mekanik dan metode vegetatif. Model ini pada dasarnya mempertimbangkan aspek kemiringan lahan, kedalaman tanah, dan kepekaan tanah terhadap erosi.

Pustaka-Usahatani Konservasi

Penyelamatan Tanah, Air, dan Lingkungan Oleh Sitanala Arsyad & Ernan Rustiadi (Editor)

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s