Bahaya Dengki


Dikisahkan, seorang saudagar kaya membeli seorang budak. Anehnya, sejak hari pertama, sang majikan tidak pernah memperlakukannya sebagai budak. Sebaliknya, dia menjadikan budak itu layaknya anak sendiri. Dia penuhi seluruh kebutuhan hidup budaknya. Dia berikan juga makanan lezat dan pakaian-pakaian mahal. Tetapi, budaknya itu sering melihat majikannya termenung seakan-akan ada masalah besar yang dirahasiakannya.

Pada suatu hari, sang majikan berkata kepada budaknya, “Tahukah engkau, mengapa aku memperlakukanmu sebaik ini? Aku ingin engkau
melakukan satu hal permintaanku. Bila engkau melakukannya, seluruh harta kekayaanku ini menjadi milikmu.”

“Apa pun yang Tuan perintahkan akan aku kerjakan. Tuan telah memberiku kehidupan. Bagaimana mungkin aku menolak permintaan Tuan? Katakanlah, apa yang sebenarnya Tuan inginkan?” jawab si budak.

“Engkau harus bersumpah terlebih dahulu untuk melaksanakannya,” kata majikannya.

“Baiklah,” jawab budaknya, “aku bersumpah akan melakukan segala permintaan Tuan.”

Setelah merasa yakin kepada budaknya, berkatalah si majikan, “Nanti malam, engkau harus memotong leherku di atap rumah tetanggaku itu.”

Si budak kaget bukan main. “Bagaimana mungkin aku akan membunuh Tuan?”

“Justru, kalau engkau membunuhku di atap rumah tetanggaku itu, engkau telah membuatku bahagia.” kata sang majikan.

“Memangnya, ada rahasia apa antara Tuan dan tetangga itu?” selidik budaknya.

“Ketahuilah! Aku sangat membenci tetanggaku itu. Kami berdua bersaing, tapi dia selalu melebihi aku dalam segala hal. Aku terbakar perasaan dengki kepadanya. Aku dendam kepadanya. Oleh karena itu, dengan kematianku nanti, dia akan diseret ke pengadilan dan dipenjara. Sebab, semua orang mengenalnya sebagai sainganku.”

Akhirnya, si budak pun bersedia.

Singkat cerita, pada suatu malam yang telah direncanakan, dibunuhlah majikannya di atap rumah tetangganya.

Keesokan harinya, gegerlah masyarakat. Akibatnya, tetangganya itu dipenjara. Tapi, lama-lama orang-orang menjadi ragu. Mengapa dia melakukan pembunuhan itu di atap rumahnya sendiri?
\
Pada suatu hari, hati nurani si budak tergugah. Lalu, dia menghadap penguasa dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Setelah memahami persoalannya, penguasa itu membebaskan keduanya, baik si tersangka maupun si budak.

Pustaka
100 Kisah Islami Pilihan Oleh Salman Iskandar

This entry was posted in Pendidikan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s